Menjadi Pemimpin yang Rasional atau Emosional?

Menjadi Pemimpin yang Rasional atau Emosional?

Memimpin itu adalah bekerja dengan orang lain untuk meraih sesuatu tujuan bersama. Bekerja dengan orang lain mengharuskan setiap pemimpin memiliki kemampuan mempengaruhi masing-masing orang agar mau menunaikan tugas sesuai dengan tanggung jawab yang diberikannya. Manakala semua orang mau bekerja maksimal, maka tugas pemimpin sebenarnya telah selesai.

Namun pada kenyataannya, menggerakkan orang tidak selalu mudah, sehingga tidak sedikit pemimpin mengalami kesulitan. Sebaliknya, juga sering terdengar para bawahan mengeluhkan perilaku pemimpinnya sendiri. Para bawahan merasa tidak mudah menyesuaikan diri dengan perilaku atasannya. Dalam keadaan seperti ini, iklim organisasi menjadi tidak menyenangkan, baik pemimpinnya maupun bawahan yang dipimpin.

Baca selengkapnya

Anak Muda Indonesia Tak Ingin Cepat Menikah

Anak Muda Indonesia Tak Ingin Cepat Menikah

Dilansir dari Katadata.co.id (8/1/2022) Anak muda Indonesia cenderung ingin menunda pernikahan. Ini terlihat dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan, persentase pemuda yang belum kawin atau melajang semakin meningkat setiap tahunnya. 

Sebaliknya, persentase pemuda yang memutuskan segera menikah semakin menurun. Proporsi pemuda yang belum kawin sebesar 61,09% pada 2021. Persentase ini naik 1,27 poin dari tahun sebelumnya yang memiliki persentase 59,82%. Selama 10 tahun terakhir, kenaikan pemuda belum kawin hampir mendekati 10 poin. BPS menyebutkan, persentase pemuda belum kawin naik 9,11 poin dari 51,98% pada 2011.

Sementara pemuda yang berstatus kawin hanya sebesar 37,69% pada 2021. Angka ini menurun 1,16 poin dari tahun sebelumnya yang sebesar 38,85%. Adapun jika dibandingkan dengan 2011 menurun 8,81 poin dari 46,5%.

Baca selengkapnya

Mengenal Indikator Kinerja

Mengenal Indikator Kinerja

Seperti yang kita pahami, seorang manajer yang diberi tanggung-jawab untuk mengelola sebuah organisasi dituntut untuk memberi kepuasan bukan hanya kepada pemilik atau investor tetapi juga kepada stakeholders lain. Artinya menghasilkan kinerja keuangan semata dianggap tidak cukup. Keberhasilan dan keberlanjutan sebuah organisasi sangat tergantung juga pada kemampuan seorang manajer untuk menghasilkan kinerja lain yang bisa memenuhi kepentingan pihak-pihak berbeda. Tuntutan dua kelompok yang berbeda kepentingan ini membawa konsekuensi bagi manajer untuk menghasilkan kinerja yang berbeda. Manajer sudah tentu tidak bisa memilih salah satu dan mengabaikan yang lain. Di sisi lain, untuk bisa menghasilkan beragam kinerja yang berbeda tersebut sudah tentu manajer tidak bisa bekerja sendirian. Suka atau tidak suka manajer harus melibatkan karyawan, tim kerja, unit kerja dan departemen terkait; dan uniknya masing-masing kelompok internal ini juga ingin dinilai kinerjanya secara berbeda.

Baca selengkapnya

Mahasiswa harus Tetap Kreatif dan Produktif di Masa Pandemi

Mahasiswa harus Tetap Kreatif dan Produktif di Masa Pandemi

“Mahasiswa Banten harus tetap kreatif dan produktif walaupun sekarang ini kita sedang dalam masa pandemic. Jangan jadi alasan pandemic mengganggu aktifitas kita sehari-hari.” Demikian diungkap oleh Achmad Rozi selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Primagraha dalam acara Webinar Literasi Digital  dengan tema Tetap Kreatif dan Produktif di Masa Pandemi. Minggu (22/08/2021)

Kegiatan Webinar yang diselenggarakan oleh Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI menghadirkan narasumber Dr. H. Jazuli Juwaini, MA selaku anggota Komisi I DPR RI dan Achmad Rozi selaku Dekan FEB Universitas Primagraha.

Acara Webinar dibuka secara langsung oleh Samuel Abrijani Pangerapan, B.Sc  selaku perwakilan dari Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo RI ini diikuti oleh peserta dari mahasiswa yang berasal dari berbagai Perguruan tiinggi di Banten.

Baca selengkapnya

Kerja itu Ibadah

Kerja itu Ibadah

Suatu ketika Lukman Al Hakim berwasiat kepada anaknya, “wahai anakku, cukupkanlah dirimu dari kefakiran dengan kerja yang halal!”, sesungguhnya orang yang meminta-minta niscaya akan ditimpakan empat karakter, yaitu; pertama, ia telah memperbudak agamanya; kedua, lemahnya akal; ketiga, kepribadian akan hilang dan keempat Orang akan meremehkannya.

Sesungguhnya bekerja menghasilkan rezeki adalah salah satu bentuk ibadah yang murni dan mulia. Dengan bekerja adalah menunjukkan bentuk ketaatan terhadap perintah Allah dan kepatuhan terhadap perintah Rasulullah Saw.

Firman Allah, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah dimuka bumi; dan carilah karunia Allah dean ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung. “ (QS Al Jumu’ah [62]: 10)

Baca selengkapnya

Mengapa Motivasi Kerja Penting?

Mengapa Motivasi Kerja Penting?

Kata motivasi (motivation) kata dasarnya adalah motif yang berarti dorongan, sebab alasan seseorang melakukan sesuatu. Menurut Gitosudarmo (2015:109) motivasi adalah factor yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu aktivitas tertentu, oleh karena itu motivasi seringkali diartikan pula sebagai factor pendorong perilaku seseorang. Chukwuma & Obiefuna (2014) mengatakan Motivasi adalah suatu proses yang dimulai dengan kebutuhan dalam diri manusia yang menciptakan kekosongan dalam diri seseorang. Motivasi kerja merupakan kebutuhan pokok manusia dan sebagai insentif yang diharapkan memenuhi kebutuhan pokok yang diinginkan, sehingga jika kebutuhan itu ada akan berakibat pada kesuksesan terhadap suatu kegiatan. Karyawan yang mempunyai motivasi kerja tinggi akan berusaha agar pekerjaannya dapat terselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Baca selengkapnya

Strategi Meningkatkan Partisipasi Kerja Karyawan

Strategi Meningkatkan Partisipasi Kerja Karyawan

      Pada dasarnya partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran dan emosi atau perasaan seseorang di dalam situasi kelompok yang mendorongnya untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha mencapai tujuan. Partisipasi merupakan salah satu cara untuk memotivasi yang mempunyai cirri khas yang lain daripada yang lain. Hal ini disebabkan peningkatan partisipasi lebih ditekankan pada segi psikologis daripada segi materi, dimana dengan melibatkan seseorang di dalamnya, maka orang tersebut akan merasa ikut bertanggung jawab. Secara harfiah, partisipasi berarti “turut berperan serta dalam suatu kegiatan”, “keikutsertaan atau peran serta dalam suatu kegiatan”, “peran serta aktif atau proaktif dalam suatu kegiatan”. Partisipasi dapat didefinisikan secara luas sebagai keterlibatan dan keikutsertaan masyarakat secara aktif dan sukarela, baik karena alasan-alasan intrinsik maupun ekstrinsik.

Baca selengkapnya